Jumat, 12 Maret 2010

MEMAHAMI KEMBALI ESENSI IBADAH

“Dan tida Aku ciptakan jin dan manusia melainan supaya mereka ber’ibdah (mengabdi) kepada-Ku.”. (QS. Adz Dzariyat : 56)

Amal ibadah islami seolah hanya muncul di tempat – tempat dan pada waktu – waktu tertentu di masjid, mushalla, surau, majlis ta'lim, pada bulan Ramadhan, Iedul Fitri atau Qurban. Ibadah sepertinya belum di anggap perlu eksis di pasar, sekolah, pergaulan dan hidup keseharian. Islam dianggap "amat sakral" sehingga dianggap tidak pantas hadir ditempat – tempat diatas. Islam dikungkung hanya dalam ruang dan waktu tertentu. Lalu mungkinkah mengharapkan islam dapat menjadi rahmatan lil'alamin bagi semsesta jika hanya diisolir seperti itu?

  Pengertian Ibadah

 Tujuan penciptaan manusia di muka bumi ini adalah beribadah (menghamba/mengabdi)kepada Allah Swt, Sang Pencipta, Pemilik dan Penguasa Alam Semesta
Istilah " ibadah " berasal dari kata abdun yang bermakna " abdi, hamba atau pelayan. Secara terminology, 'ibadah itu berarti "suatu ketundukan, ketaatan, atau penyerahan diri secara mutlak sebagai wujud dari penghambaan dan pengabdian diri kepada Allah subhanahu Wata'ala.".

Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut[1] itu", Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya[826]. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. An Nahl : 36).

Menurut Abu A'la Al-Maududi, ibadah mengandung pengertia ta'alluh atau tanssuk yakni tata cara penghambaan. Penyelenggaraan serangkaian tata cara penghambaan atau pengabdian kepada Khaliq (Pencipta) semsesta dengan penuh harapan guna memohon jaminan keselamatan dan perlindungan.


Ruang lingkup Ibadah
Ruang lingkup ibadah sesungguhnya tidak terbatas semata-mata pada aspek ritualnya seperti shalat, zakat, shaum dan haji sebagaimana sebagian besar kita memehaminya. pemahaman seperti ini mesti kita perbaikai dalam rangka mengemban tugas sebagai Abdullah (hamba Allah) secara optimal. Pemahaman seperti itu pula yang menyebabkan terjadinya kemandekan aplikasi Dienul Islam dalam kehidupan Kaum Muslimin.
    Amal ibadah islami seolah hanya muncul di tempat – tempat dan pada waktu – waktu tertentu di masjid, mushalla, surau, majlis ta'lim, pada bulan Ramadhan, Iedul Fitri atau Qurban. Ibadah sepertinya belum di anggap perlu eksis di pasar, sekolah, pergaulan dan hidup keseharian. Islam dianggap "amat sakral" sehingga dianggap tidak pantas hadir ditempat – tempat diatas. Islam dikungkung hanya dalam ruang dan waktu tertentu. Lalu mungkinkah mengharapkan islam dapat menjadi rahmatan lil'alamin bagi semsesta jika hanya diisolir seperti itu?
    Allah 'azza wajalla memerintahkan kepada kita orang – orang beriman agar mengaplikasikan Dienul Islam secara menyeluruh. Islam tidak mengajarkan kita melaksanakan sebagian dan meninggalkan sebagian lainnya.

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS Al Baqarah : 208)
 
    Ibadah adalah mengikuti seluruh keinginan Allah secara utuh sepanjang waktu, sepanjang hidup. Mengikuti segala apa yang deperintahkan-Nya. Seorang suami dan ayah yang mencari rizqi utuk menafkahi keluarganya adalah ibadah. Sorang istri dan ibu yang melayai suami dan mendidik anak- anaknya dengan landasan mengabdi kepada Allah juga merupakan ibadah. demikian juga seseorang yang tak mau melakukan penyimpangan dalam tugas, baik korupsi materi maupun waktu meskipun ada kesempatan, maka inipun merupakan indikator (tanda) ketaatan atau ibadah-nya kepada Allah, Rabb Yang Maha Rahman dan Maha Tahu.

Halangan Beribadah
    Ada beberapa perkara yang menghambat seseorang dalam ibadah kepada Allah Swt.  
  1. Kufur, yakni menolak, mengingkari dan tidak mau mengikuti petunjuk (hidayah) Allah (QS. Al Hajj : 8) Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya[2]. Dengan memalingkan lambungnya[3] untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. ia mendapat kehinaan di dunia dan dihari kiamat Kami merasakan kepadanya azab neraka yang membakar. 

  2.  Syrik, yaitu mempersekutukan Allah dengan yang lain dalam ibadah dan atau dalam 'tiqad (keyakinan). Mengambil ilah-ilah (Tuhan) selain Allah. (QS. Yusuf : 106)  Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam Keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)
  3. Nifaq adalah bersikap mendua (ambivalen) islam dalam status tetapi hatinya menolak kebenaran. (QS. Al Munafiqun : 1)  Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: "Kami mengakui, bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah". dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.  
  4. Fasiq, adalah sering melanggar aturan – aturan Allah dan melakukan perbuatan – perbuatan maksiat (QS. Al Hasyr : 19) Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah orang-orang yang fasik.
  5. Dzalim, adalah bertindak menurut hawa nafsunyasehingga mecelakakan dirinya sendiri dan atau orang lain ( QS. Ali Imran : 94) . Maka Barangsiapa mengada-adakan Dusta terhadap Allah[] sesudah itu, Maka merekalah orang-orang yang zalim.

 
    Orang – orang yang di dalam hatinya ada penyakit – penyakit seperti tersebut terhalanglah ia dari rahmat Allah. Mereka adalah orang – orang yang durhaka kepada Allah Rabbul 'Alamin. Mereka telah bergeser dari tugas hidupnya seaagai abdullah dan Khalifatullah.
    Sebaliknya, hamba Allah yang taat dan setia, menempatkan dirinya sesuai dengan misi penciptaaan dan keberadaanya. Mereka hidup di bawah naungan hidayah Allah. Setiap lankah – lankah kakinya tidaklah bergerak kecuali di bawah kendali allah Swt.

Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al An'am : 162)
Rasulullah Saw. Bersabda, " Beribadahlah kamu kepada Allah seakan kamu melihat-Nya, meski engkau tak dapat melihat-Nya. Dan sesungguhnya dia (Allah) senantiasa melihatmu. " (HR. Muslim)

Syarat Ibadah yang diterima

Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al An'am : 162)
    Ayat di atas meluruskan dan membersihkan kembali akan niat – niat kita dalam melakukan ibadah kepada Allah. Bahwa amal apapun yang kita perbuat semata – mata dengan niat karena Allah Swt. Sedangakan syarat agar amal ibadah kita diterima oleh Allah Swt adalah :
    Syarat pertama, adalah menjadikan Allah sebagai 'pemotivasi' setiap gerak langkah kita (Lillah) dalam ibadah. Segala macam amal harus didasari oleh iman, yaitu iman kepada Allah. sebab jika sekiranya kita melakukan sesuatu bukan berdasarkan iman, niscaya akan sia-sialah segala bentuk amal perbuatan kita tersebut. Jadi, niat harus di bersihkan dan tidak tercampur dengan niat yang lain.
    Mungkin karena ingin dipuji, karena ingin termasyhur, lantas kita membesar – besarkan suatu amal kita, agar semua orang tahu. Nah ini semua akan menjerumuskan kepada perubaan riya' (ingin dilihat joleh orang lain/pamer).
    Syarat kedua, ditemimanya amal adalah billah. Maksudnya ibadah itu harus sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Sesuatu ibadah mesti ada perintahnya dari Allah dan contohnya dari Rasulullah sebagai uswah (yang dicontoh). Tentunya kita harus memiliki pengetahuan tentang apa yang kita kerjakan dan kita ucapkan, sehingga kita mengerti benar apa yang kita lakukan dan ucapkan.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al Isra : 36)
    Jika niat kita karena Allah maka caranya pun harus sesuai degana yang digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya terutama dalam urusan ibadah mahdhah (shalat, zakat, dsb). Jangan mengada – ngadakan sesuatu dalam ibadah, manakala tidak ada hukum dan sunnahnya. Mengada – ngada seperti itu tergolong bid'ah.
    Sehingga fardhu ain (wajib 'ain) hukumnya atas tiap – tiap muslim menuntut ilmu tentang cara – cara beribadah pada Allah, agar tidak salah langkah dalam usaha kita mencari ridha Allah.
    Orang – orang sering menggunakan ayat – ayat Al Qur'an sebagai jampi – jampi (mantra), bahkan ada yang menuliskan ayat – ayat Al Qur'an diselembar kain putih, kemudian digunakan sebagai jimat penangkal syaithan dan sebagainya. Padalahl semuanya itu tidak ada perintahnya dari Allah ataupun contohnya dari Rasulullah. Dan Al Qur'an diturunkan oleh Allah bukanlah untuk jimat ataupun jampi – jampi, bukan pula sebagai ajian – ajian. Fungsi Al Qur'an adalah sebagai bimbingan hidup bagi seluruh manusia.
    Yang Ketiga, adalah ilallah (kepada Allah) yakni orientasi melakukan amal adalah kepada Allah, menjadikan Allah sebagai tujuan ibadah. Ampunan-Nya yang kita minta dan ridha-Nya yang kita harapkan. Dan memang Allahlah sebaik – baiknya yang dituju. Dialah tempat kita menemukan segala harapan.
Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

    Semoga kita tak jemu berjuang menjadi hamba Allah Swt yang baik karena amal – amal kita berbalas ridha Allah Swt.

  Note:
[1] Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah s.w.t.
[2] Maksud yang bercahaya Ialah: yang menjelaskan antara yang hak dan yang batil.
[3] Maksudnya: menyombongkan diri.

 

 

Artikel Terkait:

0 komentar: